Selasa, 01 November 2011

aku pernah..

aku pernah merasakan hari-hariku gelap, langkahku berat.
aku pernah mengalami jatuh tersungkur berdiri sendiri dan malam pagiku sepi
aku pernah mendapati diriku terkungkung di pojok lorong yang pekat dan menjadi bunga yang terbuang
aku juga pernah saat tersadar menemukan diriku sedang mengemasi kepingan-kepingan hati yang remuk di sepanjang jalan hidupku kedepan.

Berharap pada sia-sia...

hingga kemudian sesosok anak manusia hadir disaat aku terluka.
dia menahan tanganku untuk mencabik-cabik tubuhku sendiri, dia menahan bibirku untuk mengumpat hidupku, dia merangkai puzzle hatiku yang porakporanda.
aku sama sekali tidak menginginkannya
saat itu aku merasa bahwa kesendirianku jauh lebih baik daripada bersamanya.

hingga suatu saat dia membenahi sayapku yang patah, dan mengusap airmataku yang berdarah.
akal sehatku menyadar, rupanya seseorang yang tak aku harapkan bukan menjadi harapan yang sia-sia. dialah yang bisa membuat aku bahagia sekarang.
dia membuatku belajar bahwa cinta itu bukan menyukai apa yang lebih, tapi menutupi kekurangan dengan kelebihan kita. sebab cinta lembut yang penuh kesabaran melahirkan kasih sayang yang dalam

bagaimanapun aku tak pernah tau jawabnya, sejak kapan aku jatuh cinta kepadanya, malampun tak pernah mampu berbisik, dia sekedar mengucap lirih, bahwa dari aku terdiam diatas kabin ini, bersama doa, sejak itulah cinta terlarut tipis dan berangsur ke dalam kalbu


Rabu, 12 Oktober 2011

wedding- 19 juni 2011

..waktu tak pernah mengusik keputusan besar dari sang maha kuasa,
perjalanan panjang melintasi kisah dan masa masing-masing antara kau dan aku...
kala aku bersua denganmu, bukan itu waktu yang ditentukan. Tuhan berbijak, ketika itu kau dan aku belajar meniti hidup

dalam ruang dan waktu yang berbeda, dengan kisah dan cerita yang tak sama..

tahun menjadi tak berarti, jam melambat menghentakkan menitan di sudut detik yang mulai meruntuh, kau dan aku

berjumpa kembali di tengah alunan luka dan tertatih yang tak ayal menggilas perih.

disudut senja bergulir menuju peraduan temaram, dalam doa dan harap, melahirkan tetesan airmata yang kubingkai diatas

sajadah panjang, dan ku ikat dengan benang sisa butiran tasbih. Kau adalah jawaban dari segala raguku.
Masih dibawah warna jingga senja, keyakinanmu mengalahkan keinginanku.

beringsut dikeheningan malam, sesaat kita terhenti serentak memadukan langkah yang tak lagi sama, sebesit kata menjadi

luka, seberkas laku menusuk pilu, dan sebongkah gerak menghimpit rasa sesak.
Terhuyung dipelataran dan rasa membuncah, laksana Bunga teratai yang mekar semerbak ditengah Telaga Biru. aku

merangkak untuk memeluk cinta yang bertadah payung ikrar suci, meski setiap dekap memancing sembilumu menari

dilabirin hati yang siap untuk kau singgahi selama mungkin......

Restu Tuhan berbisik melewati angin semilir di sekelebat hitamnya malam, sesekali kumerebah lelah di hamparan kolong

langit menengadah petunjuk dengan ratapan sendu, sesegera aku bangkit bersiap melawan hari esok dengan penuh kerumitan lagi. hingga pada akhirnya..
Ahad, 19 Juni 2011~~ 07:00 jemarimu mengikat erat pada jemari sang Na'ib, suaramu lantang dan keras. garis mukamu tegas. kau meminangku. . . ..

inilah aku, gadis kecil sudah hak untukmu, inilah aku, gadis mungil yang beranjak dewasa mengarungi bahtera bersamamu, detik detik sakral itu usai, kau dan aku kini menjadi KITA.....
selamanya KITA...
tak akan ada yang berhak memisahkan KITA, kecuali Sang Tuhan memisahkan KITA dengan hembusan nafas yang terakhir.hingga habis masa uzurku, cinta dan pengabdianku selalu tertuju padamu. bahtera KITA adalah ladang ibadah, semata sarana berangkat bersama menuju Jannah...




~ perjuangan Nay bertahan dari segala goda menuju ikrar suci, melindungi niat ibdah dan melindungi suami dengan Laku dan Doa~

Rabu, 28 September 2011

" Puisi rindu untuk suamiku "

Tiba-tiba aku tak kuasa ingin segera hariku berlalu. menemui akhir bulan September...


Lagu-lagu sendu terus mendayu, menggelegarkan di penjuru cakrawal
melodi rindu bergema dalam nyanyian sunyi didalam jiwaku.

satu hari berlalu,
waktu mati di ujung malamku yang hening
aku terus menghitung sisa masa yang akan begitu berat kulalui
aku tak mampu siangku habis dalam sepi, bergantung pada sore,
lalu ketika malam mulai menyambut,
aku tak menemukanmu disampingku...


hanya diam dan anganku yang mencoba menepis rindu...
rindu yang tertahan di ujung malam,
rindu yang tertekan di dasar kalbu,
rindu yang menggelembung di sudut ekor mata, dan..
rindu yang membuncah setiap detiknya


cintaku terlalu dalam, sedalam tetes airmataku yang meluap tumpah hingga merasuk kedasar hati
selamanya, tak pernah ada yang kurindukan, selain kerinduan yang hebat memaku rapat namamu...

NY. Rizki K

Kamis, 08 September 2011

kehilangan yang belum kumiliki

belum cukup rasa kebungahan telah membuncah di dada..
membayangkan perut membuncit tampak seksi dimata suami, memperkirakan tambah disayang dia. lalu mengelus-elus perut yang membundar dengan manja, menciumi dan membacakan ayat-ayat alquran..
dan tak terlewatkan, terus memeluk, menjaga dari segala aktifitas berlebihan sang bundanya.

usianya belum cukup lama, entah masuk keberapa minggu, sebab saat itu.. rencana untuk memeriksakan bagaimana perkembangannya, telah gagal, berubah menjadi tindakan pemeriksaan keberadaan makhluk segumpal darah itu apakah masih berlanjut untuk hidup atau tidak . .

pagi itu, aku takut, kalau-kalau ada darah segar mengalir. Oh, jangan..

tergopoh, memasuki ruanganku. kakanda berebah terlentang, kudekapnya sesergap kutu loncat. dia terkejut. dan ternyata ketakutanku menjadi ketakutannya. sesaat dia memekik, dan meyakinkan dengan apa yang dia lihat.

"benar, Mi! darah.."

aku terbawa rasa kagetnya, saat kubuktikan sendiri, benar..
darah.
aku lunglai, kakiku melemas, jatuh tepat di dadanya sesaat dia menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya, menganggap semua yang terjadi masih dipungkiri, dan ternyata memang kecewa!

dia membelaiku, memebenamkan rautku dengan sentuhan lembut dikepalaku, mengecupiku yang tengah tenggelam dalam isakkan kepedihan, sepedih rasa patah hati !!
keesokkannya, kami memeriksakan keahli yang sudah mengerti, Rumah Sakit Bersalin tentunya.

"..ada kehamilan, tapi hamilnya adalah hamil kosong"
apa maksudnya? tanyaku, berharap tak sekedar dokter dan suster yang menjawab dengan detail. namun ingin rasanya dunia menjawab dengan gamblang.

"..Blighted Ovum (BO) atau hamil kosong ini adalah kehamilan yang cuma kantong dan plasentanya saja yang berkembang, namun janinnya tidak turut serta. sehingga ukuran kantong dan janinnya tidak menyamai"

kenapa bisa begitu? apa sebabnya? berbahayakah? tapi akukan benar merasa ada makhluk baru diperutku, bagaimana ini bisa kosong? siapa yang mengambilnya? siapa yang memakannya? apakah masih bisa dipertahankan? atau apakah jikalau tak berhasil diselamatkan, kelak kehamilan berikutnya akan mengalami hal serupa?

saat kami pulang saling membisu, perjalanan seperti semakin jauh, tak satupun diantara kami berbicara. mungkin dia sedang bermain dengan pikirannya sendiri, sebab akupun sedang meraung dengan isi hatiku sendiri. sampai pada akhirnya dimenit kesekian...
"sabar, ya Mi. ikhlaskan, ini belum rejeki kita.."

suamiku menghiburku, menenangkanku, tapi entah, kalimatnya justru semakin membuatku melahirkan butiran-butiran kristal yang memecah di telaga airmata. sesak.

aku melempar tubuhku yang sudah dinyatakan 'tidak hamil' (hanya seperti, hanya terkesan begitu, bagaimana tidak sedangkan hamilku adalah kosong!)
aku menjadi tidak perduli, aku seperti merasa sia-sia.
usai sholat, suamiku menyentuhku. membujukku agar aku bersedia duduk berhadapan untuk saling menguatkan, mengusap arimataku, dan memberikanku ketenangan.

peluknya menguatkanku,
ucapannya menyemangatiku,
belainya menghiburku..

aku berusaha melupakan, namun lebih sering kudapati diriku tenggelam dalam lamunan. apakah aku masih belum pantas untuk menjadi Ibu?
apa aku masih belum layak diberi amanat?
apa aku belum becus untuk merawat malaikat kecil itu untukku?
apakah suamiku kecewa?
apa dia akan mencabut ucapannya, bahwa dia pernah berkata 'semakin sayang' kepadaku, lantaran ternyata aku belum bisa sempurna??
apakah nantinya suamiku akan membenciku?
adakah dia akan berpaling dan tidak menyayangiku, lalu pergi kepada perempuan lain yang lebih bisa memberikannya malaikat kecil?
apakah yang di dalam benaknya adalah aku ini perempuan yang tidak dapat membahagiakannya?

Tuhan.. betapa hancurnya aku..

beberapa minggu berlalu, dalam pengobatan jalan ini tak membuahkan hasil hanya siksa belaka. siksa oleh kandungan yang tak ada. sia-sia. terputuskanlah untuk aku menjalani operasi kuret segera. demi allah, aku tak paham bagaimana rasanya operasi, bahkan obat biusnya tak pernah kurasakan sperempat dosesnya sekalipun. aku resah dengan semuanya. hanya Allah yang kupunya untuk bisa menjagaku dan melindungiku. aku harus berani dan kuat, demi suamiku yg telah membiayaiku dan meminta aku untuk segera sehat, demi calon anakku kelak yang akan merasa sehat berada di kantong yang sudah bersih dan terhindar dari infeksi. jika tidak mengingat untuk itu, mengingat karena suamiku, rasanya aku ingin membatalkan acara dokter mengkuret-kuret perutku, ingin rasanya aku bangkit dari pembaringan itu dan melepas semua alat-alat medis lalu lari dan tak berharap kembali.

pengalaman itu, pertama kalinya aku dapatkan, banyak cerita yang tak sanggup kubahas.
hingga pada akhirnya, aku telah dinyatakan kembali bersih, sehat dan negatif...............

mungkin Allah punya rencana lain dibalik ini, Dia mengerti bagaimana memberikan waktu yang tepat untuk aku berbahagia dengan keluarga kecilku ini. dan saat ini, aku dan suamiku, masih cukup menikmati masa-masa indah pacran yang sudha halal ini dulu, kelak Allah akan memberikan kebahagiaan lebih dari sekedar ini..

Jumat, 26 Agustus 2011

dzikir dalam tangis

siang yang panas. begitu memasuki ruangan kerjaku, fiuuhh AC menyejukkan sekujur permukaan kulitku yang sudah bermandikan keirngat dan bau matahari.
pengen pipis..... lari kebelakang, fiiuuuhh sedikit lega.

beberapa menit duduk kembali di kursiku, rasanya pegnen pipis lagi...

heran, panas-panas nggak kedinginan kok hasrat pipis melulu. payah! beser ini...
pokoknya eneg banget perutnya sedikit ada rasa mual. ah, cobain beli testpack aja di apotik deket sini.

dengan diantar si Ana, aku ke apotik membeli sensitif, sampai di tempat kerjaku lekas-lekas aku ke toilet, maksain buat pipis lagi, padahal tadi udah berulang kali dikeluarin. keluar juga, sedikit sih .. tapi sudah cukup kalau untuk membenamkan garis max yang tertera di batang kecil alat uji kehamilan itu.

beberapa detik belum keliatan ada berapa garis merah yang tampak. aku deg degan, takut kalau ternyata masih satu garis merah saja yang keliatan, seperti 2 minggu yang lalu. aku tersenyum kecil ketika mendapati hasilnya cuma 1 garis merah. pandangan suamiku tak percaya, tatapan kami menyatu. kecewa...

sreet.. sreeett

tanda satu garis merah telah tampak, lalu atasnya timbul lagi. 2 garis merah benar-benar keliatan jelas kali ini. mataku susah berkedip, senyumku mengembang..

aku menciumi batang kecil alat uji tersebut, nggak peduli ujungnya bekas air pipisku. mataku berkaca-kaca, aku menangis mengucap syukur. alhamdulillahh.........

"kenapa? aku tau hasilnya kalau melihat dari wajah kamu sedang tersenyum begitu.." seru salah satu temanku ketika aku sudah kembali di meja kerjaku.
aku tak menghiraukan,,,

ini adalah bingkisan kado terindah dari Allah yang sangat berharga di lebaran taun ini. sempurna!

sungguh aku masih belum percaya, ini adalah bukti cinta dari kasih yang kami rajut. menunjukan bahwa kami pantas menjadi orang tua.
Subhanalloh, maha suciNya, alangkah baik sekali Allah memberikan amanat ini kepadaku.
Alhamdulillah, segala puji untukNya, tentu DIA tau mana yang terbaik untukku. jika kado ini telah terkirim untukku, syukur dan syukur kupanjatkan. bahkan kalimat syuku dan hamdalah belum cukup puas menunjukan haru ku
Allahuakbar, maha besar, segalanya tidak bisa terjadi tanpa kuasanya. dan DIA adalah maha melihat yang tak terlihat, dan tau segala sesuatu yang tidak pernah aku tau atau belum aku tau..

dzikir itu menggetarkan kalbu, menggemetarkan belahan bibirku. haruku menciptakan tangis bahagia.
Lindungi kami yaAllah. . . .

semoga jalanMU ini adalah bagian dari kebaikanku.

Senin, 15 Agustus 2011

Rudimentale

"Rudimentale"

istilah italiano yang mampu terucap lirih di ujung bibir, lebih tepat menyerupai sekecap desahan..

rudimentale..
kata yang pantas diucapkan seiring hilangnya tenaga dan daya.
Lunglai..

_________________----------------^^^^^^^^^^$%%%%%%%%%%%%_________________________________________


aku tau sesuatu hal yang tidak diberitahukan padaku. bukan masalah besar bagiku. namun, lebih merasa seperti tak dianggap ada. KECEWA!!

kedua kaki yang siap melangkah melaju dengan pesatnya, tiba-tiba berhenti sesaat, merenung sejenak, sesekali dayung terhempas tak dihiraukan. menjadikan bahtera berputar-putar diporos yang sama

jari-jari menghimpit menyatu, dengan penuh harap hangat kan mengusir dingin yang merayap. sekelilingku bersorak tak sedikit bertepuk tangan sorai penuh keriuhan dengan tawa-tawa bahagia, lebih tepatnya menyamai hari-hari ku yang akan memulai dengan bahagia (amiin)

itu adalah penilaian mereka melewati kedua mata, itu adalah pendengaran mereka melalui kedua telinga, dan itu adalah penciuman mereka tentang harum bungaku yang mereka hirup melalui kedua lubang hidungnya.
sayang, mereka tak punya satu hati untuk dapat merasakan .. bahwa saat ini,
Rudimentale . . . . . .

Kamis, 14 Juli 2011

... ALLAH ...

ada batas garis kesabaran. meski garis itu sudah kerap ku tolerir untuk makin panjang dan panjang. penat menanti perubahan kearah lebih baik tak kunjung jua, penat yg terakumulasi. . .
semua yg kulakukan tak diberi arti lagi!! allah maha tau segala, bahkan relung hati ini yg tak pernah diketahui seorangpun. jgn jadikan aku dipuncak marah y allah, siram aku kmbali dg kesabaran yg baru!!!!!!!
satu-satunya pengobat laraku adalah membaca alqur'an, satu-satunya peredam amarahku adalah air wudhlu, dan satu-satunya yang bisa membuatku tenang adalah tersedu di depan illahi.

Allah... aku datang masih sama seperti dulu, selalu dengan air mata. kau pasti bosankan ya allah, melihatku mendatangimu dengan sendu sendu melulu.
Allah... sesekali aku datang padamu, dengan senyum bahagia, meski kau tentu tau rasa bahagiaku terlebih dahulu, tapi aku selalu mengingatMu untuk kuceritakan ulang perasaan bahagiaku, dan aku bersyukur setiap saatnya , y Allah..

Allah... bagaimana mungkin bisa aku mencintai orang lain melebihi rasa cintaku kepadaMu, sedangkan aku tau dan merasa, bahwa orang yang kucintai tidak setulus engkau mencintaiku.

Allah... ini seonggok hatiku, apa kau lihat? banyak tambalan-tambalan luka yang berantakan di permukaannya. itu semua karena setiap hatiku berlubang karena tertusuk sembilu, aku sesegera menjahit dan menambalnya dengan alat sederhana, berharap lekas tertutup dan tidak kembali berdarah.

Allah... maafkan aku jika aku selalu mengemis kepadaMu, tapi aku memang sadar tiada tempat yang pantas untuk aku beradu suka dan duka kecuali kepadaMu. dan aku percaya, meskipun kau tak ada di depan mataku, tapi kau berada di dekatku melebihi dekatnya urat nadiku pada tubuhku.

Allah... kenapa kau beri aku perasaan mencintainya yang begitu dalam, sekarang lihatkan, hatiku kerap tercabik dengan perasaanku yang hebat ini. sejak dulu kenapa engkau menjadikanku selalu bertahan ya Allah, kenapa kau dorong aku masuk dalam labirin cintanya? hingga akhirnya didetik ini, ku takkan pernah bisa melepasnya. apa aku salah ya Allah, memintanya untk bisa mencintaiku seperti aku mencintai dia?
pantaskah aku berharap ingin merasa dicintai dan dihargai dia?

Allah... kau kirim dia untukku, kau bisikan padaku melewati doa permohonan petunjukMu, bahwa dia adalah jawaban dari segala raguku. lalu, akankah orang yang kau kirim itu adalah orang yang tak mampu menjagaku, dan tak mampu memberiku rasa ketenangan hati, meksipun dia adalah teman hidupku?

Allah... ijinkan aku mengintip sedikit saja rencanaMu untukku. kenapa kau pilih aku menemani seseorang yang begitu sulit kupeluk. karena meskipun kupeluk sayap-sayap cintanya, aku terasa ngilu tertusuk pedang dibalik bulu halus itu. walau begitu, aku tetap memeluknya. sejak kapan ya Allah aku berubah menjadi wanita sebodoh ini? apakah sejak kau memutuskan aku bahwa aku adalah wanita yang kuat?!

Allah... kekasihku..
aku tidak akan menduakan cintaku kepadamu dengan cintanya. sebab, aku mencintainya adalah karenaMu. kau yang ajarkan aku untuk mencintai pria semata olehMu, ikhlas dengan pemberianMu. tapi allah, hatiku ini adalah hati yang lembut dan masih hidup, bukan hati mati atau terbuat dari batu yang tak mampu berperasaan. jikalau tergores, lukanyapun hingga mampu remukan jantungku.

Allah... akan kupersembahkan dia, menjadi yang baik, menjadi yang layak untuk kau puji, menjadi pantas untuk masuk dalam syurgamu lantaran dia termasuk lelaki sholeh yang mencintai dan melindungi keluarganya dengan kasih dan penuh tanggungjawab.

Allah... jangan hukum dia, jangan jadikan malaikat-malaikatMu membenci dan menghardik dia, aku mohon. sesalah apapun dia, toh itu hanya masalah kesadaran, maka bukakan pintu hati dan pikirannya saja, agar dia bisa menjadi tidak seangkuh itu.

Allah... sekarang sudah tidak bisa lagi kuanggap salah dan sesal, bagaimanapun itu, aku tetap harus berjuang dan bertahan selalu dalam jalanMu.
beri aku kesabaran pada hatiku, beri ketegaran jiwaku, dan beri kekuatan pada langkahku. ikhlasakan diriku ya Allah, serta jagalah hati ini untuk selalu rendah hati padanya.

buat dia mengerti, bahwa keras hatinya yang melalangbuana menjadi angkuh itu mencair dan melembut ya Allah...

aku siap menunggu . . .